Mamberamo Raya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang merupakan Pemekaran dari Kabupaten Sarmi tahun 2007. Untuk menuju ke kabupaten ini kita harus menempuh waktu selama 3 jam jika menggunakan Pesawat Mini (bagi yang berduit lebih), sedangkan bila menggunakan Kapal Laut akan menempuh waktu Selama 3 hari 2 malam dari arah Kota Jayapura, Jika arah dari Kabupaten Sarmi hanya menempuh waktu 2 hari 1 malam.

Kapal Laut yang mengangkut penumpang menuju Kabupaten ini masih satu itupun Milik Swasta Bernama Kapal Lestari Permai dengan kapasitas orang tak terhingga (dipaksakan sehingga berdesak-desakan) yang tentunya tak ada asuransi kematian bagi penumpang, baik itu yang duduk di pagar pembatas depan ataupun yang berada pagar belakang dan tak ada larangan membawa membawa barang berbau. Yah intinya harus berada di tempat pijakan yang kuat agar tidak terbang saat dihantam Ombak walau berdesak-desakan ditengah campuran bau barang bawaan penumpang.

10 Tahun Mekar, Masyarakat Kabupaten Mamberamo Raya belum merasakan perubahan yang berarti, sarana dan prasarana penunjang kehidupan masih sangat minim. Tingkat Kepuasan Masyakarat terhadap kinerja pemerintah Jika menggunakan metode Random Sampling maka akan mendapatkan hasil penilaian 99 persen Sangat buruk Jika wawancara representasi 1 dari 10 orang. Betapa tidak, semuanya dapat terlihat dengan kasat mata.

 
  1. Ketika Kabupaten lain Telah Menikmati Jaringan listrik bahkan sudah menggunakan token dengan pembelian secara online, nah Di Kabupaten Mamberamo ini listrik hanya bisa dinikmati saat malam hari (18.00 – 06.00 ), kecuali kantor Rumah sakit, Rumah ibadah, Kantor Pemda dan Bank menggunakan generator.
  2. Ketika Kabupaten lain Telah Menikmati jaringan telepon bahkan sudah menggunakan jaringan 4G, nah di pusat Kabupaten ini kita masih berebutan signal. 1.000-an pengguna telepon dengan satu tower telkomsel yang disediakan.
  3. Kalo Produk Air minun Aqua mengatakan Sumber Air Su dekat, nah di Pusat Kabupaten Mamberamo Raya sumber air bersih tidak ada. Masyarakat hanya bergantung dari air hujan, sebagian lainnya dari air sungai yang keruh, dan sebagiannya lagi dari sumur yang airnya harus disaring.
  4. Sebagai kabupaten yang tingkat perputaran uangnya masih bergantung dari bantuan pemerintah atau biasanya masyarakat menyebutnya dana pencairan, nah Jika Pemda belum bekerja (seperti saat ini yang masih dalam proses tahap seleksi Pejabat eselon 1 dan 2 ) maka sangat lambat pula putaran roda ekonominya. Ada yang menyebutnya bagai Kota Mati.
  5. Banyaknya proyek pembangunan sarana dan prasarana yang berhenti di tengah jalan Namun Telah Menerima anggaran 100 persen yang meniscayakan adanya manuver Pejabat bersama kontraktor nakal diikuti pula lemahnya pengawasan terhadapnya. Mungkin pengawasnya juga ikut andil dalam bagi-bagi rezeki sesatnya. Wallahu a’lam
  6. Keheranan yang paling mengherankan ditengah lemahnya putaran uang tersebut adalah Aktivitas judi ( Sabung ayam, tontonan gelap, Judi kartu dan hal lainnya yang bisa dijadikan judi) yang sangat ramai dilakukan ditempat umum sehingga menjadi hal yang tabu dan kebanyakan pelakunya adalah Pihak Keamanan itu sendiri.
  7. Mafia BBM subsidi melakukan aksinya secara buka-bukaan. Kenapa bisa ? Kembali lagi ke lemahnya pengawasan
  8. Survey Kehadiran pelayanan pemerintah ( Tenaga, Kesehatan, tenaga pendidik dan kantor dinas/bupati) hanya 2 yang hadir dari 10 orang yang Telah di SK-kan baik itu PNS atau kontrak. Sebagian dari mereka berada di Kota Jayapura dan sebagiannya lagi fokus laksanakan wirausaha dirumah.
  9. Jika bensin 1 liter 25.000 rupiah, maka akan bisa terbayangkan bagaimana harga bahan pokok lainnya.

    Masih bnyak lagi yang belum bisa dituliskan. Dan itulah sebabnya sehingga Kota ditengah hutan ini layak disebut Sebagai Kota Sejuta Harapan.

Penulis: Awaluddin Melek

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *